Suatu Senja di Resapombo

    Resapombo, nama suatu desa yang terdengar janggal di telinga kami. Awalnya kami mendengar tentang desa ini dari salah satu saudara Pandu Pusaka, Pak Trijaka Rejasa. Pak Trijaka adalah seorang guru yang mengabdikan dirinya mendidik para siswa di SMAK St.Albertus, Malang atau yang tenar dengan nama SMA DEMPO.

Tahun ini Desa Resapombo menjadi daerah tujuan program pengenalan kehidupan bermasyarakat dari SMA Dempo atau yang biasa dikenal dengan Live In. Semenjak survey awal, Pak Trijaka telah mendapat informasi dari penduduk desa tentang adanya situs purbakala di dekat desa mereka. Berbekal informasi itu , Pak Trijaka mengajak Saudara-saudara Pandu Pusaka Blakrak ke Desa Resapombo.

     Blakrakan ke Desa Resapombo benar suatu pengalaman yang tak terlupakan. Situs Purbakala yang sungguh mengagumkan, bahkan mungkin masih lestari mengikuti pola saat pertama dibangun meski bangunan diatasnya telah runtuh dan sulit diidentifikasi kembali bentuknya.
Kekaguman kami tidak cukup hanya pada Situs Purbakala saja. Dibalik suasana tenang dan damai Desa Resapombo ternyata menyimpan Sejarah pergolakan masyarakat pekebun dalam menuntut kembali hak mereka atas tanah kebun dan tanah pekarangannya.
Desa Resapombo telah tiga kali berganti nama, awalnya disebut Nyawangan kemudian Gogoniti dan terakhir berganti menjadi Resapombo sekitar tahun 1971. Masa Kolonial, daerah ini dikuasai oleh perkebunan teh milik Belanda yang meliputi areal kurang lebih 1900 hektar yang terbagi menjadi empat Afdeiling. Masuknya Jepang membuat perkebunan ini ditinggalkan, dan oleh pemerintah pendudukan Jepang, penduduk desa dipaksa untuk menanam tanaman pangan guna keperluan perang serdadu Jepang. Setelah Jepang kalah perang, lahan tersebut dikuasai penduduk dan telah disetujui oleh pemerintah menjadi hak milik mereka.
Tahun 1965, tahun yang sangat menentukan dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Demikian juga Desa Resapombo, situasi yang kacau telah mengubah wajah desa yang damai dan mulai tertata semenjak Jepang angkat kaki.
Kekacauan situasi telah membuat militer memiliki peran yang begitu dahsyat. Rezim otoriter yang baru muncul saat itu juga memiliki peran penting dalam ketidakadilan terhadap para pemilik lahan. Belum lagi para petualang nekad yang bertaruh nyawa sesamanya guna kejayaan pribadi. Semuanya saling belit menciptakan sejarah kelam di desa yang telah beranjak tenang.
Dalih peningkatan produksi dalam negeri digunakan sebagai alasan guna merampas lahan warga guna diubah kembali menjadi perkebunan. Tak jarang Teror dan ancaman diterima oleh warga yang menolak menyerahkan tanahnya. Menurut pengakuan warga, beberapa diantara warga desa tidak diketahui lagi nasibnya karena dituduh sebagai anggota partai terlarang di masa itu.
Setelah warga dapat dijinakkan, hak pengelolaan lahan diberikan kepada pihak swasta dalam bentuk HGU, Hak Guna Usaha. Warga tidak pernah tahu siapa – siapa dibalik HGU tersebut, yang teringat dalam memori mereka bahwa perkebunan di bekas lahan mereka dikuasakan kepada seorang personil militer berpangkat Kopral. Perkebunan itu selanjutnya dikenal sebagai perkebunan Kulon Mbambang.

Ketidakadilan tidak berhenti sampai disitu saja. Warga yang telah kehilangan lahannya terpaksa bekerja sebagai buruh perkebunan. Warga yamg memiliki pengetahuan lebih, nasibnya lebih beruntung dengan ditunjuk sebagai mandor. Gambaran kehidupan buruh yang suram tanpa masa depan terlintas dalam benak kami saat mendengar cerita yang keluar dari tuan rumah kami yang sudah berumur itu. Pendidikan bagi anak keturunan para buruh itu dibatasi hingga tingkat SD saja kemudian mereka diharuskan membantu orang tuanya di perkebunan dengan demikian ketersediaan tenaga buruh akan tetap ada bagi perkebunan tersebut. Hanya anak – anak mandor yang boleh mengenyam.pendidikan.yang lebih tinggi.

      Reformasi 1998 adalah titik balik bagi nasib kaum buruh dan warga desa Resapombo. Bersamaan dengan habisnya HGU perkebunan dan dibakar oleh Api Reformasi, warga Resapombo mulai bergerak menuntut hak yang telah dirampas dari mereka.
Perjuangan yang tidak kenal lelah dari tingkat desa hingga pusat mereka tempuh. Bahkan warga sempat menduduki kantor BPN Blitar selama 3 minggu. Kembali mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan, tapi kali ini dalam situasi yang jauh berbeda. Meskipun menyimpan kebencian akibat perlakuan tidak adil selama tiga puluh tahunan, warga dengan sadar dan cerdik memilih aksi damai dan menolak semua aksi – aksi anarkis serta campur tangan pihak luar yang seolah – olah ingin membantu.
Warga menuntut pengembalian lahan seluas 255,5 hektar guna 314 KK. Tanah yang pernah menjadi milik mereka yang dirampas. Berkat kesabaran dan doa serta keteguhan warga tahun 2012, perjuangan mereka membuahkan hasil dengan dipulihkannya hak-hak mereka atas lahan tersebut. Sungguh empat belas tahun yang panjang dan penuh perjuangan
Senja itu, di rumah salah seorang tetua desa, Pak Yanto kami mendapat sudut pandang yang sungguh berbeda dari apa yang selama ini kami baca dari media – media tentang pergolakan masyarakat dan reformasi agraria.
Banyak media yang hanya cenderung berpihak pada penguasa dan pemilik modal. Banyak cerita yang ditulis hanya menyalahkan warga dan menggambarkan mereka sebagai orang -orang liar, kasar dan tidak tahu berterima kasih serta orang – orang serakah yang menuntut sesuatu atau lahan yang bukan hak mereka.
Bersyukur kami dari Pandu Pusaka, Senja itu mendapat kisah dari sudut pandang yang berbeda sehingga kami dapat melihat fenomena serupa dengan lebih jernih.
Resapombo, Desa yang damai di kaki sebelah barat Gunung Kawi ternyata menyimpan banyak kisah sejarah yang sungguh menarik guna menggugah pemikiran kita dan generasi mendatang.

Singhasari, Senin Pon 15 Desember 2014

Tentang pandupusaka

komunitas pencinta sejarah dan saujana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s