Jalan-jalan History Trail Kawi

Yap, kali ini tulisan pertama saya di life.nugiemynugie.com yang dulu sempat dihapus oleh pihak hostingan yang lama (ngga sempat nyelamatin tulisannya hehe :D). Dalam kesempatan ini, saya pengen berbagi pengalaman yang saya alami pagi tadi, jalan-jalan dengan kelompok pecinta sejarah Pandu Pusakadan Drs.Ismail Lutfi. juru sejarah UM, ke daerah jalan kawi Malang.

History trail ini pertama-tama dimulai dengan berkumpul di Guest Host milik Pemkot Malang, yang memiliki gedung dengan arsitektur jaman dulu, tetapi sudah mengalami beberapa perubahan atau penambahan. Dan sekarang dijadikan sebagai guest host yang menyimpan saksi hidup sejarah jalan kawi.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kawi lalu berbelok ke jalan Tenes Malang (samping parkir luar MOG ke arah semeru). Di sana diceritakan bahwa dulunya MOG (Mal Olympic Garden) adalah sebuah gedung pertemuan yang bernama Gedung Kartini. Sayang, saya tidak mendapatkan gambar gedungnya jaman dulu, tetapi saya atau anda-anda sekalian pasti ingat ketika jaman dulu di MOG itu ada sebuah gedung dengan pagar pendek-pendek putih, biasanya ada acara di sana (mungkin pada saat saya masi kecil dan masi ngga tau nama gedungnya)

Setelah itu ada hal menarik ternyata. Ada situs-situs sejarah yang tidak terawat, tetapi sangat penting sebenarnya. Ada semacam gardu listrik, yang digunakan jaman dulu dan di bangun jauh dengan pemukiman.

Di sebelahnya ada satu menara yang menghasilkan bunyi yang sangat keras. Menara ini digunakan sebagai pertahanan udara jaman dulu. Jadi ketika ada pemboman di area malang, maka ada orang-orang yang ditugaskan untuk memanjat lalu membunyikan sirene untuk tanda kepada warga malang untuk mengungsi ke bangker-bangker. Tetapi sekarang tidak berfungsi, dan pertanyaannya, lalu bagaimana ketika suatu saat Malang mendadak ada yang menyerang? Dari mana masyarakat bisa tau tandanya?  (*pasrah)

Lalu perjalanan berpindah ke Tangkuban prahu, karena jalan semeru penuh dengan orang jualan di pasar minggu, lewat lapangan parkir MOG dan stadion Gajayana. Di sana kami melihat, sangat di sayangkan memang, fasilitas olah raga yang tertua di Malang, sepeti kolam renang sudah berubah bentuknya dari sejarahnya, akibat pembangunan yang tidak memikirkan tataletak dan nilai sejarah.

Nah setelah sampai di jalan tangkuban prahu, ada topik, penyesalan terhadap pembangunan kota malang di bagian sanitasi dan pembuangan air. Banyak dari bagian-bagian sanitasi yang dulu di rancang dengan baik oleh Ir. Herman Thomas Karsten (orang Belanda / wong londho) pada waktu jaman penjajahan, untuk mencegah terjadinya banjir, sehingga ketika hujan air cepat meresap.

Nampak sebuah selokan yang dibuat jaman Belanda dulu untuk meresap air tetapi kini serasa tidak berguna.

Lanjut tentang sanitasi, kami kemudian berjalan ke jalan kawi, di sana kami mendapati sebuah gedung yang miring ke dalam, dulunya sebenarnya difungsikan untuk peresapan air. Jadi ketika air penuh menggenangi  jalan, maka air tersebut akan masuk ke tempat itu dan kemudian akan di resap, sehingga ngga ada banjir. Inilah sebenarnya jawaban atas protes mayasrakat, kenapa kok jalan kawi pas hujan banjir?

Lalu ternyata saya baru tahu, ada gedung APDN malang, sebagai cikal bakal berdirinya IPDN.. waw…

Lanjut perjalanan di lanjutkan ke jalan Ijen. Perumahan Ijen yang dulunya di sebut Idjen Boulevard, adalah sebuah kawasan elite pemukiman yang dirancang oleh Ir. Herman Thomas Karsten, dengan arsitektur eropa-jawa. Sebenarnya ada banyak fasilitas yang disediakan oleh Ir. Herman Thoma Karsten dalam merencanakan pembangunan kota malang termasuk jalan ijen. Misalnya, ternyata itu, sebenarnya di setiap depan pagar rumah disediakan hydrant, lho untuk apa? untuk mencegah kebakaran rumah dan memudahkan para petugas kebakaran dalam mengambil air. Lalu sekarang? hilang, termasuk yang di depan rumah saya wkwkwk.

Saluran ledeng air untuk warga. (*sudah ditimbun aspal sekarang)

Lalu pembuangan air. Kini jalan ijen kalo hujan ya banjir…

padahal kita sebagai warga malang, seharusnya “patut berbangga” (hanya berbangga? sekarang?) dengan adanya  perumahan ijen, karena Idjen Boulevardpada sekitaran tahun 1970an merupakan Boulevard paling indah se Asia Tenggara. Bahkan ada pengakuan bahwa Idjen Boulevard itu jauh lebih indah dari kota Berlin pada jaman dulu (*bayangkan…)

Idjen Boulevard jaman dulu (sumber http://malang.endonesa.net)

Idjen Boulevard foto udara (sumber http://i232.photobucket.com/albums/ee186/zhongliang_19/indo_skyscrapers/ijen.jpg)

di pinggir-pinggir jalan Ijen, terdapat pemaksaan pengindahan yaitu penanamkan anggrek di batang pohon palem wkwkwk, padahal saya rasa ngga kelihatan indahnya hehhe 😀

Setelah itu ada sebuah rumah yang menandakan sebuah bangunan kuno sebagai icon sejarah Jalan Ijen, sebagai bukti rancangan arsitektur Belanda (sekarang sebelah Holland Bakery).

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Museum Brawijaya. Apa isi dari museum Brawijaya? silahkan dilihat sendiri hehe, karena terlalu panjang jika di jelaskan di sini 😀

Lalu pelajaran yang saya dapat dari jalan-jalan kali ini adalah, bahwa pembangunan di malang sekarang ini, bukan suatu kemajuan. Bahkan sebuah kemunduran besar, seperti sanitasi yang tidak diperhitungkan, pembanguanan yang menghilangkan nilai sejarah, dan pembangunan yang lebih mementingkan urusan politik. Semoga tulisan ini menginspirasi anda untuk merubah kota Malang menjadi lebih baik.

NB : jika ada masukan / revisi sangat dipersilahkan  😀

sumber : http://life.nugiemynugie.com/jalan-jalan-history-trail-kawi/

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Jalan-jalan History Trail Kawi

  1. Lilik Indayani berkata:

    Apa yang anda ceritakan mengingatkan kembali saya di masa lalu. Hampir setiap hari saya dan teman-teman pulang sekolah selalu lewat jln Ijen dan sekitarnya. Kalau anda mengatakan bahwa pembangunan kota Malang sebuah kemunduran 100 % benar. Tetapi walaupun begitu saya masih cinta dengan Malang, setiap ada waktu kami sempatkan untuk jalan-jalan dimana jalan tersebut sering saya lewati, walaupun dengan hati kecewa. Anda masih tempat tinggalnya di jl. Ijen ya. Boleh gak ya saya silaturahmi ke rumah anda, sewaktu saya masih remaja dulu saya kepingin sekali masuk ke salahsatu rumah yang ada di jl. ijen. Maaf.

  2. keren, bagus tulisannya!!

  3. Andrew-Tan berkata:

    Artikel yang bagus sekali… Semoga Malang tetap dijaga kelestarian dan ciri khas bangunan-bangunan menariknya… Mau sekalian share nih… Buat teman-teman yang mau jalan-jalan ke Malang liat situs-situs bersejarah dan wisata kulinernya (yang juga saya lakukan) tapi belum tahu mau nginap di mana, saya rekomendasikan menginap di hotel Kartika Graha. Lokasi dekat pusat kota, transport juga gampang, harga hotel terjangkau. Check this out http://www.kartikagrahahotel.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s