Meretas Sunyi Punden Sari

DSCN9768 DSCN9842 DSCN9780 DSCN9744 DSCN9748Betapa kami bersyukur dan bahagia saat kaki – kaki kecil kami menapak diatas seratus enam puluh satu anak tangga batu yang telah melintas waktu beratus tahun. Sungguh hanya Karma baiklah yang telah menghantarkan kami ke tempat Suci dari Masa Klasik ini, setelah kami harus berputar empat puluh tujuh kilometer akibat kesalahan penyebutan Kesamben dengan Kasembon oleh salah seorang saudara Pandu Pusaka yang memberi informasi awal. Tepat tengah hari akhirnya kami tiba di Desa Resapombo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

Informasi awal yang kami dapatkan adalah di desa tersebut ditemukan situs Arkeologis. Situs tersebut telah berulang kali didatangi oleh para peneliti dari Trowulan tetapi hingga saat ini belum ada keterangan yang dapat menjelaskan keberadaan situs tersebut. Informasinya  situs tersebut terletak tidak jauh dari dusun terdekat yang masih dapat dijangkau dengan mobil. Dari Dusun terakhir, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh lima ratus meter.

Mendung gelap yang menyambut kedatangan kami tak menyurutkan tekad guna melihat sendiri situs tersebut. Namun ternyata informasi awal tadi sangatlah minim, dan itu sempat membuat jengkel Tim Blakrak’an Pandu Pusaka. Belum lagi hujan yang mulai deras seakan menahan langkah kami sampai hanya di dusun terakhir.

Kami berempat terpaksa berteduh di emper rumah penduduk yang berhadapan dengan kapel kecil yang saat itu sedang melangsung Ibadah Ekaristi. Sembari berteduh kami berusaha mengumpulkan informasi lebih jauh tentang keberadaan situs tersebut. Keraguan mulai menyelimuti benak kami, saat tahu bahwa situs yang kami tuju ternyata berada jauh di dalam hutan lindung, sekitar tujuh kilometer dari tempat kami berteduh. Sungguh berbeda dengan informasi awal yang menyebutkan bahwa situs tersebut hanya terletak lima ratus meter dari dusun terakhir.

Sungguh suatu keadaan yang dilematis. Setelah jauh kami berjalan dan mendapatkan informasi keliru yang membuat kami harus mengambil rute berputar sekarang kami dihadapkan dengan hujan yang seakan menghalangi langkah kami dan informasi bahwa situs tersebut masih jauh dari tempat kami. Pilihan yang sulit bagi tim kami, antara harus pulang dengan tangan hampa atau terus nekad menuju situs tersebut meski apapun resikonya. Ditengah situasi yang membingungkan tersebut, kami berjumpa dengan seorang warga dusun yang baru saja menyelesaikan ibadah Ekaristi di Kapel di depan kami. Ternyata orang tersebutlah yang memberikan informasi awal kepada salah seorang saudara Pandu Pusaka. Pak Sulianto, begitu ia biasa dipanggil.

Ternyata informasi awal yang disampaikan oleh salah seorang saudara Pandu Pusaka selama ini sangatlah berbeda dengan apa yang kami dengar langsung dari Pak Sulianto. Melihat tekad dan keteguhan kami, Pak Sulianto beserta tiga warga lainnya akhirnya bersedia mengantarkan kami menuju situs tersebut. Dengan menggunakan empat sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk medan daerah tersebut, berangkatlah kami diantara gerimis hujan yang mulai mereda.

Deru mesin motor membelah kesunyian yang seakan – akan meliputi kawasan tersebut selama berabad – abad. Hujan deras tadi siang membuat jalan tanah yang kami lalui semakin licin dan berlumpur. Di beberapa ruas jalan , jurang menganga lebar seakan sang Kala yang siap menelan siapa saja yang tidak waspada.  Beruntung para pengendara motor yang mengantar kami hafal dan sangat faham akan kondisi medan tersebut. Beberapa kali kami harus turun dari motor dan mendaki jalan terjal dengan tanah basah yang lengket karena motor yang kami tumpangi selip. Setelah empat puluh lima menit yang begitu mendebarkan, akhirnya kami tiba di bawah hamparan tangga batu alam yang menjulang dengan gagah melintas masa.

Tak ada kata yang tepat untuk melukiskan perasaan kami saat kami melangkah dengan perlahan menapaki anak tangga itu satu – demi satu. Bayangan tentang betapa indah dan damainya tempat itu di masa silam berkelebatan dalam benak kami. Hanya Syukur yang terucap dalam hati saat kami memasuki areal suci ini. Suci, Damai, Nirmala, Santhi itulah kata yang silih berganti mengisi pikiran kami seturut langkah kami menjelajah situs ini.

Situs ini dikenal oleh warga sekitar sebagai Punden Sari. Menurut pengakuan Pak Yanto salah seorang warga paling senior yang mengantar kami, banyak cerita yang beredar di masyarakat terkait dengan punden tersebut. Warga desa Resapombo sebenarnya telah mengetahui keberadaan Situs tersebut dari waktu yang lama, tapi inisiatif kaum mudanyalah untuk melaporkan yang membuahkan perhatian dari pihak BPCB Trowulan.

Situs ini berbentuk teras – teras dan di masing – masing teras dapat dijumpai batur dan puing – puing bangunan yang berbahan batu alam yang tidak dibentuk. Beberapa umpak batu dengan celah segi empat diatasnya juga tampak tergeletak. Perkiraan kasar yang dibuat oleh Tim Blakrakan Pandu Pusaka, situs tersebut meliputi area seluas 2 hektar dan belum sepenuhnya dikupas. di sekitar areal yang telah dibersihkan masih banyak gundukan batu alam yang tampak rapi menyembul dibalik rumput yang menutupinya.

Informasi yang kami dapat dari Pak Yanto, atau yang biasa dipanggil Pak dhe oleh warga yang lain, beliaulah yang pertama kali merintis jalan menuju ke situs ini. Terdorong oleh cerita – cerita para orang tua di Resapombo tentang peninggalan kerajaan di tengah hutan lindung, Pak Yanto berusaha melacak keberadaan punden yang saat itu mulai dilupakan oleh warga desa. Tiga bulan lamanya beliau habiskan guna membuka jalan dan usaha keras beliau membuahkan hasil dengan ditemukannya kembali punden tersebut.

Penemuan kembali Punden tersebut menggugah rasa ingin tahu warga Desa Resapombo. Wargapun bahu – membahu membersihkan Punden yang telah lama terkubur rimbunnya hutan lindung. Tak kurang tiga ratus orang bergotong royong membersihkan punden tersebut.  Mereka membersihkan rumput, memotong akar dan menebang pohon yang telah membelit situs tersebut. Kayu yang mereka dapat dari pohon yang ditebang, mereka gunakan membuat cungkup sederhana guna melindungi puing bangunan yang masih tersisa.

Berbagai kisah mistik seputar penemuan situs tersebut juga dituturkan oleh Pak Dhe kepada kami. Mulai dari pencurian papan kayu yang sedianya akan digunakan oleh masyarakat untuk membangun cungkup, yang akhirnya dikembalikan lagi oleh yang mencuri. Perampasan Arca oleh seorang yang mengaku dukun dari desa seberang yang berakhir dengan sakitnya si dukun dan meskipun Arca tersebut telah dikembalikan tak urung si dukun tersebut menemui ajalnya.

Pak Dhe Yantopun kerap mengalami fenomena mistik saat membersihkan areal tersebut. Pernah satu kali saat beliau akan menebang pohon besar yang tumbuh di batur tertinggi dan tersuci yang diyakini oleh warga, beliau tidak memohon ijin dan mulai meremehkan. Saat beliau mulai menebang, tiba – tiba saja ada cabang pohon yang menghantam beliau hingga jatuh pingsan. Semenjak kejadian itu beliau selalu berhati – hati bila melakukan apa saja di areal tersebut. Beliau juga pernah berjumpa seorang tua yang menggiring gerombolan bebek berbulu emas menuju arah timur dari punden tersebut sayang sekali beliau enggan menceritakan siapa dan apa tujuan orang tua tersebut.

Kami tak henti – hentinya mengagumi Situs tersebut. Meski hanya tersisa puing dan batur serta beberapa batu yang kami duga dahulunya altar pemujaan tidaklah mengurangi Aura kesucian yang terpancar. Saat kami hening sejenak memuja sang Pencipta di situs tersebut, Sekelebat bayangan timbul dalam angan kami, Seorang tua berambut dan berjenggot putih dengan wajah tenang secerah bulan purnama. Kain putih yang beliau kenakan dan tersampir rapi di pundak kanannya dan rambut yang digelung keatas menambah wibawa. Entah apa maksud dari gambaran tersebut, hingga saat kami pulangpun gambaran tersebut masih terpatri lekat di benak kami.

Dugaan sementara Tim Blakrak’an Pandu Pusaka, Punden Sari adalah Situs Karesian dari Masa Klasik. Diperlukan pemetaan dan penelitian mendalam guna mengungkap sejarah keberadaan punden yang kini telah ditemukan kembali. Seiring dengan raung motor kami menjauhi Punden Sari, sunyi kembali melingkupinya menunggu para ahli waris dan peneliti yang mau peduli datang kembali.

Singhasari, Rabu Kliwon, 17 Desember 2014

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Suatu Senja di Resapombo

    Resapombo, nama suatu desa yang terdengar janggal di telinga kami. Awalnya kami mendengar tentang desa ini dari salah satu saudara Pandu Pusaka, Pak Trijaka Rejasa. Pak Trijaka adalah seorang guru yang mengabdikan dirinya mendidik para siswa di SMAK St.Albertus, Malang atau yang tenar dengan nama SMA DEMPO.

Tahun ini Desa Resapombo menjadi daerah tujuan program pengenalan kehidupan bermasyarakat dari SMA Dempo atau yang biasa dikenal dengan Live In. Semenjak survey awal, Pak Trijaka telah mendapat informasi dari penduduk desa tentang adanya situs purbakala di dekat desa mereka. Berbekal informasi itu , Pak Trijaka mengajak Saudara-saudara Pandu Pusaka Blakrak ke Desa Resapombo.

     Blakrakan ke Desa Resapombo benar suatu pengalaman yang tak terlupakan. Situs Purbakala yang sungguh mengagumkan, bahkan mungkin masih lestari mengikuti pola saat pertama dibangun meski bangunan diatasnya telah runtuh dan sulit diidentifikasi kembali bentuknya.
Kekaguman kami tidak cukup hanya pada Situs Purbakala saja. Dibalik suasana tenang dan damai Desa Resapombo ternyata menyimpan Sejarah pergolakan masyarakat pekebun dalam menuntut kembali hak mereka atas tanah kebun dan tanah pekarangannya.
Desa Resapombo telah tiga kali berganti nama, awalnya disebut Nyawangan kemudian Gogoniti dan terakhir berganti menjadi Resapombo sekitar tahun 1971. Masa Kolonial, daerah ini dikuasai oleh perkebunan teh milik Belanda yang meliputi areal kurang lebih 1900 hektar yang terbagi menjadi empat Afdeiling. Masuknya Jepang membuat perkebunan ini ditinggalkan, dan oleh pemerintah pendudukan Jepang, penduduk desa dipaksa untuk menanam tanaman pangan guna keperluan perang serdadu Jepang. Setelah Jepang kalah perang, lahan tersebut dikuasai penduduk dan telah disetujui oleh pemerintah menjadi hak milik mereka.
Tahun 1965, tahun yang sangat menentukan dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Demikian juga Desa Resapombo, situasi yang kacau telah mengubah wajah desa yang damai dan mulai tertata semenjak Jepang angkat kaki.
Kekacauan situasi telah membuat militer memiliki peran yang begitu dahsyat. Rezim otoriter yang baru muncul saat itu juga memiliki peran penting dalam ketidakadilan terhadap para pemilik lahan. Belum lagi para petualang nekad yang bertaruh nyawa sesamanya guna kejayaan pribadi. Semuanya saling belit menciptakan sejarah kelam di desa yang telah beranjak tenang.
Dalih peningkatan produksi dalam negeri digunakan sebagai alasan guna merampas lahan warga guna diubah kembali menjadi perkebunan. Tak jarang Teror dan ancaman diterima oleh warga yang menolak menyerahkan tanahnya. Menurut pengakuan warga, beberapa diantara warga desa tidak diketahui lagi nasibnya karena dituduh sebagai anggota partai terlarang di masa itu.
Setelah warga dapat dijinakkan, hak pengelolaan lahan diberikan kepada pihak swasta dalam bentuk HGU, Hak Guna Usaha. Warga tidak pernah tahu siapa – siapa dibalik HGU tersebut, yang teringat dalam memori mereka bahwa perkebunan di bekas lahan mereka dikuasakan kepada seorang personil militer berpangkat Kopral. Perkebunan itu selanjutnya dikenal sebagai perkebunan Kulon Mbambang.

Ketidakadilan tidak berhenti sampai disitu saja. Warga yang telah kehilangan lahannya terpaksa bekerja sebagai buruh perkebunan. Warga yamg memiliki pengetahuan lebih, nasibnya lebih beruntung dengan ditunjuk sebagai mandor. Gambaran kehidupan buruh yang suram tanpa masa depan terlintas dalam benak kami saat mendengar cerita yang keluar dari tuan rumah kami yang sudah berumur itu. Pendidikan bagi anak keturunan para buruh itu dibatasi hingga tingkat SD saja kemudian mereka diharuskan membantu orang tuanya di perkebunan dengan demikian ketersediaan tenaga buruh akan tetap ada bagi perkebunan tersebut. Hanya anak – anak mandor yang boleh mengenyam.pendidikan.yang lebih tinggi.

      Reformasi 1998 adalah titik balik bagi nasib kaum buruh dan warga desa Resapombo. Bersamaan dengan habisnya HGU perkebunan dan dibakar oleh Api Reformasi, warga Resapombo mulai bergerak menuntut hak yang telah dirampas dari mereka.
Perjuangan yang tidak kenal lelah dari tingkat desa hingga pusat mereka tempuh. Bahkan warga sempat menduduki kantor BPN Blitar selama 3 minggu. Kembali mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan, tapi kali ini dalam situasi yang jauh berbeda. Meskipun menyimpan kebencian akibat perlakuan tidak adil selama tiga puluh tahunan, warga dengan sadar dan cerdik memilih aksi damai dan menolak semua aksi – aksi anarkis serta campur tangan pihak luar yang seolah – olah ingin membantu.
Warga menuntut pengembalian lahan seluas 255,5 hektar guna 314 KK. Tanah yang pernah menjadi milik mereka yang dirampas. Berkat kesabaran dan doa serta keteguhan warga tahun 2012, perjuangan mereka membuahkan hasil dengan dipulihkannya hak-hak mereka atas lahan tersebut. Sungguh empat belas tahun yang panjang dan penuh perjuangan
Senja itu, di rumah salah seorang tetua desa, Pak Yanto kami mendapat sudut pandang yang sungguh berbeda dari apa yang selama ini kami baca dari media – media tentang pergolakan masyarakat dan reformasi agraria.
Banyak media yang hanya cenderung berpihak pada penguasa dan pemilik modal. Banyak cerita yang ditulis hanya menyalahkan warga dan menggambarkan mereka sebagai orang -orang liar, kasar dan tidak tahu berterima kasih serta orang – orang serakah yang menuntut sesuatu atau lahan yang bukan hak mereka.
Bersyukur kami dari Pandu Pusaka, Senja itu mendapat kisah dari sudut pandang yang berbeda sehingga kami dapat melihat fenomena serupa dengan lebih jernih.
Resapombo, Desa yang damai di kaki sebelah barat Gunung Kawi ternyata menyimpan banyak kisah sejarah yang sungguh menarik guna menggugah pemikiran kita dan generasi mendatang.

Singhasari, Senin Pon 15 Desember 2014

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Apa dan Siapa Pandu Pusaka

Komunitas
Pandu Pusaka
Menghadirkan sejarah secara NYATA

Pandu Pusaka merupakan sebuah komunitas yang berdiri atas kecintaan akan sejarah dan saujana Bangsa Indonesia. Berawal dari keinginan yang kuat para penggagasnya guna melestarikan dan merevitalisasi saujana Bangsa Indonesia serta membawa para pencinta sejarah menjelajahi kembali masa silam melalui peninggalan—peninggalan sejarah.
Pandu Pusaka lahir pada tanggal 1 Juni 2010 dari gagasan empat orang pelopornya yaitu Bpk. Budi Prasetyo, Bpk. Ismail Lutfi, Bpk. Eko Djunaedi dan Bpk. Hery Kurniawan. Keempatnya memiliki keprihatinan dan kepedulian yang tinggi akan Sejarah serta Pusaka Bangsa Indonesia.
Para penggagas Pandu Pusaka menyadari adanya urgensi akan pola pengenalan sejarah yang unik sehingga sejarah tidak lagi menjadi membosankan. Dengan menanamkan kesadaran akan Sejarah Bangsa Indonesia dan Kebanggaan terhadap Pusaka Nusantara maka jati diri Bangsa yang selama ini terpuruk oleh krisis multidimensi akan terbangkitkan kembali.
Pandu Pusaka adalah suatu komunitas yang bersifat terbuka bagi semua golongan tanpa memandang usia,Ras, Suku, Agama dan tanpa afiliasi politik apapun. Kegiatan Pandu Pusaka diantaranya bersifat sosial kemasyarakatan dengan mengajak anggota masyarakat luas khususnya di Kota Malang guna lebih mengetahui sejarah kotanya. Salah satunya adalah kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 27 Juni 2010, J.P.Coen Plein Trail. Kegiatan serupa ini direncanakan akan diagendakan sebagai kegiatan rutin bulanan.

Malang,27 Juni 2010

Hery Kurniawan
Koordinator

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

ALOEN-ALOEN MALANG

Aloen—aloen Malang merupakan aloen—aloen Kadipaten Malang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa aloen—aloen yang sekarang, yang dikelilingi oleh Jl. Merdeka merupakan perpindahan yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Sebelumnya Aloen—aloen Kadipaten Malang terletak sebelah selatan pendapa Kadipaten Malang, diatas lahan yang kini ditempati pertokoan Malang Plaza, Gajah Mada Plaza dan Mitra.

Oleh karena itu daerah aloen—aloen saat ini penuh dengan peninggalan masa Kolonial, baik yang masih dipertahankan atau sudah berubah bentuk dan fungsinya. Mulai dari Societe Concordia yang hanya kita kenal dari tulisan-tulisan lama, karena sekarang telah berubah menjadi Pertokoan Sarinah. Penjara Wanita yang juga telah lenyap berubah menjadi Kompleks Ramayana, dan banyak lagi bangunan yang telah direnovasi tanpa memperhatikan kaidah pelestarian Benda Cagar Budaya .

Tetapi ada juga bangunan yang masih mempertahankan bentuk dan fungsi Aslinya diantaranya Gedung Bank Indonesia, Gedung Arsip disebelah kanan Kantor Pos Besar Malang, Hotel Pelangi, Gedung Bank Mandiri dan Gereja Jago.

Aloen-aloen Malang sejak dahulu hingga kini merupakan pusat keramaian dan kegiatan sosial bagi masyarakat Malang. Untuk itu Pandu Pusaka mengajak anda mengenang kembali keindahan aloen—aloen Malang

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Jalan-jalan History Trail Kawi

Yap, kali ini tulisan pertama saya di life.nugiemynugie.com yang dulu sempat dihapus oleh pihak hostingan yang lama (ngga sempat nyelamatin tulisannya hehe :D). Dalam kesempatan ini, saya pengen berbagi pengalaman yang saya alami pagi tadi, jalan-jalan dengan kelompok pecinta sejarah Pandu Pusakadan Drs.Ismail Lutfi. juru sejarah UM, ke daerah jalan kawi Malang.

History trail ini pertama-tama dimulai dengan berkumpul di Guest Host milik Pemkot Malang, yang memiliki gedung dengan arsitektur jaman dulu, tetapi sudah mengalami beberapa perubahan atau penambahan. Dan sekarang dijadikan sebagai guest host yang menyimpan saksi hidup sejarah jalan kawi.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kawi lalu berbelok ke jalan Tenes Malang (samping parkir luar MOG ke arah semeru). Di sana diceritakan bahwa dulunya MOG (Mal Olympic Garden) adalah sebuah gedung pertemuan yang bernama Gedung Kartini. Sayang, saya tidak mendapatkan gambar gedungnya jaman dulu, tetapi saya atau anda-anda sekalian pasti ingat ketika jaman dulu di MOG itu ada sebuah gedung dengan pagar pendek-pendek putih, biasanya ada acara di sana (mungkin pada saat saya masi kecil dan masi ngga tau nama gedungnya)

Setelah itu ada hal menarik ternyata. Ada situs-situs sejarah yang tidak terawat, tetapi sangat penting sebenarnya. Ada semacam gardu listrik, yang digunakan jaman dulu dan di bangun jauh dengan pemukiman.

Di sebelahnya ada satu menara yang menghasilkan bunyi yang sangat keras. Menara ini digunakan sebagai pertahanan udara jaman dulu. Jadi ketika ada pemboman di area malang, maka ada orang-orang yang ditugaskan untuk memanjat lalu membunyikan sirene untuk tanda kepada warga malang untuk mengungsi ke bangker-bangker. Tetapi sekarang tidak berfungsi, dan pertanyaannya, lalu bagaimana ketika suatu saat Malang mendadak ada yang menyerang? Dari mana masyarakat bisa tau tandanya?  (*pasrah)

Lalu perjalanan berpindah ke Tangkuban prahu, karena jalan semeru penuh dengan orang jualan di pasar minggu, lewat lapangan parkir MOG dan stadion Gajayana. Di sana kami melihat, sangat di sayangkan memang, fasilitas olah raga yang tertua di Malang, sepeti kolam renang sudah berubah bentuknya dari sejarahnya, akibat pembangunan yang tidak memikirkan tataletak dan nilai sejarah.

Nah setelah sampai di jalan tangkuban prahu, ada topik, penyesalan terhadap pembangunan kota malang di bagian sanitasi dan pembuangan air. Banyak dari bagian-bagian sanitasi yang dulu di rancang dengan baik oleh Ir. Herman Thomas Karsten (orang Belanda / wong londho) pada waktu jaman penjajahan, untuk mencegah terjadinya banjir, sehingga ketika hujan air cepat meresap.

Nampak sebuah selokan yang dibuat jaman Belanda dulu untuk meresap air tetapi kini serasa tidak berguna.

Lanjut tentang sanitasi, kami kemudian berjalan ke jalan kawi, di sana kami mendapati sebuah gedung yang miring ke dalam, dulunya sebenarnya difungsikan untuk peresapan air. Jadi ketika air penuh menggenangi  jalan, maka air tersebut akan masuk ke tempat itu dan kemudian akan di resap, sehingga ngga ada banjir. Inilah sebenarnya jawaban atas protes mayasrakat, kenapa kok jalan kawi pas hujan banjir?

Lalu ternyata saya baru tahu, ada gedung APDN malang, sebagai cikal bakal berdirinya IPDN.. waw…

Lanjut perjalanan di lanjutkan ke jalan Ijen. Perumahan Ijen yang dulunya di sebut Idjen Boulevard, adalah sebuah kawasan elite pemukiman yang dirancang oleh Ir. Herman Thomas Karsten, dengan arsitektur eropa-jawa. Sebenarnya ada banyak fasilitas yang disediakan oleh Ir. Herman Thoma Karsten dalam merencanakan pembangunan kota malang termasuk jalan ijen. Misalnya, ternyata itu, sebenarnya di setiap depan pagar rumah disediakan hydrant, lho untuk apa? untuk mencegah kebakaran rumah dan memudahkan para petugas kebakaran dalam mengambil air. Lalu sekarang? hilang, termasuk yang di depan rumah saya wkwkwk.

Saluran ledeng air untuk warga. (*sudah ditimbun aspal sekarang)

Lalu pembuangan air. Kini jalan ijen kalo hujan ya banjir…

padahal kita sebagai warga malang, seharusnya “patut berbangga” (hanya berbangga? sekarang?) dengan adanya  perumahan ijen, karena Idjen Boulevardpada sekitaran tahun 1970an merupakan Boulevard paling indah se Asia Tenggara. Bahkan ada pengakuan bahwa Idjen Boulevard itu jauh lebih indah dari kota Berlin pada jaman dulu (*bayangkan…)

Idjen Boulevard jaman dulu (sumber http://malang.endonesa.net)

Idjen Boulevard foto udara (sumber http://i232.photobucket.com/albums/ee186/zhongliang_19/indo_skyscrapers/ijen.jpg)

di pinggir-pinggir jalan Ijen, terdapat pemaksaan pengindahan yaitu penanamkan anggrek di batang pohon palem wkwkwk, padahal saya rasa ngga kelihatan indahnya hehhe :D

Setelah itu ada sebuah rumah yang menandakan sebuah bangunan kuno sebagai icon sejarah Jalan Ijen, sebagai bukti rancangan arsitektur Belanda (sekarang sebelah Holland Bakery).

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Museum Brawijaya. Apa isi dari museum Brawijaya? silahkan dilihat sendiri hehe, karena terlalu panjang jika di jelaskan di sini :D

Lalu pelajaran yang saya dapat dari jalan-jalan kali ini adalah, bahwa pembangunan di malang sekarang ini, bukan suatu kemajuan. Bahkan sebuah kemunduran besar, seperti sanitasi yang tidak diperhitungkan, pembanguanan yang menghilangkan nilai sejarah, dan pembangunan yang lebih mementingkan urusan politik. Semoga tulisan ini menginspirasi anda untuk merubah kota Malang menjadi lebih baik.

NB : jika ada masukan / revisi sangat dipersilahkan  :D

sumber : http://life.nugiemynugie.com/jalan-jalan-history-trail-kawi/

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

KAJOETANGAN Straat

Sedari dulu hingga sekarang Kajoetangan straat atau yang kini lebih dikenal dengan Jl.Jendral Basuki Rahmat merupakan pusat perniagaan yang sangat ramai di Kota Malang.  Kajoetangan straat  membentang dari utara ke selatan. Ujung utaranya bersambungan dengan Tjelaket straat, dimulai dari pertigaan yang merupakan landmark Kota Malang hingga kini dengan Toko Semarang atau yang kini telah menjadi Toko Avia dipojoknya. Sedangkan Ujung selatannya berakhir di Alun—Alun Kota. Begitu banyak peninggalan dan kisah sejarah masa kolonial tersimpan sepanjang Kajoetangan straat. Diantaranya adalah Tram uap yang pernah menjelajah sepanjang Kajoetangan guna menyediakan Transportasi umum yang layak di masa itu. Kajoetangan juga merupakan saksi bisu kisah—kisah pertempuran dan perjuangan hebat yang pernah terjadi disana. Melintas Kajoetangan menuju ke selatan kita akan berjumpa dengan pusat—pusat interaksi sosial masyarakat pada waktu itu. Kita akan berjumpa dengan Bioskop, Toko Roti Delicious, Balai pertemuam masyarakat, dan yang tak boleh terlewatkan adalah Gereja Kajoetangan serta Toko OEN. Pandu Pusaka mengajak anda sekalian untuk kembali menelusuri Kajoetangan straat, sehingga kita semua dapat  mengenang arti penting Kajoetangan straat dalam tata Kota Malang dari masa Kolonial hingga sekarang.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Van TJELAKET Naar KAJOETANGAN

Siapa yang tidak kenal Tjelaket. Sebuah nama yang telah ada berabad—abad silam guna menyebut sebuah daerah yang kini berada  pada sebagian dari Jalan J.A. Suprapto. Daerah ini sangat vital peranannya bagi Kota Malang dari masa ke masa. Dari masa kolonial … Baca lebih lanjut

Galeri | Tinggalkan komentar