Apa dan Siapa Pandu Pusaka

Komunitas
Pandu Pusaka
Menghadirkan sejarah secara NYATA

Pandu Pusaka merupakan sebuah komunitas yang berdiri atas kecintaan akan sejarah dan saujana Bangsa Indonesia. Berawal dari keinginan yang kuat para penggagasnya guna melestarikan dan merevitalisasi saujana Bangsa Indonesia serta membawa para pencinta sejarah menjelajahi kembali masa silam melalui peninggalan—peninggalan sejarah.
Pandu Pusaka lahir pada tanggal 1 Juni 2010 dari gagasan empat orang pelopornya yaitu Bpk. Budi Prasetyo, Bpk. Ismail Lutfi, Bpk. Eko Djunaedi dan Bpk. Hery Kurniawan. Keempatnya memiliki keprihatinan dan kepedulian yang tinggi akan Sejarah serta Pusaka Bangsa Indonesia.
Para penggagas Pandu Pusaka menyadari adanya urgensi akan pola pengenalan sejarah yang unik sehingga sejarah tidak lagi menjadi membosankan. Dengan menanamkan kesadaran akan Sejarah Bangsa Indonesia dan Kebanggaan terhadap Pusaka Nusantara maka jati diri Bangsa yang selama ini terpuruk oleh krisis multidimensi akan terbangkitkan kembali.
Pandu Pusaka adalah suatu komunitas yang bersifat terbuka bagi semua golongan tanpa memandang usia,Ras, Suku, Agama dan tanpa afiliasi politik apapun. Kegiatan Pandu Pusaka diantaranya bersifat sosial kemasyarakatan dengan mengajak anggota masyarakat luas khususnya di Kota Malang guna lebih mengetahui sejarah kotanya. Salah satunya adalah kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 27 Juni 2010, J.P.Coen Plein Trail. Kegiatan serupa ini direncanakan akan diagendakan sebagai kegiatan rutin bulanan.

Malang,27 Juni 2010

Hery Kurniawan
Koordinator

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

ALOEN-ALOEN MALANG

Aloen—aloen Malang merupakan aloen—aloen Kadipaten Malang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa aloen—aloen yang sekarang, yang dikelilingi oleh Jl. Merdeka merupakan perpindahan yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Sebelumnya Aloen—aloen Kadipaten Malang terletak sebelah selatan pendapa Kadipaten Malang, diatas lahan yang kini ditempati pertokoan Malang Plaza, Gajah Mada Plaza dan Mitra.

Oleh karena itu daerah aloen—aloen saat ini penuh dengan peninggalan masa Kolonial, baik yang masih dipertahankan atau sudah berubah bentuk dan fungsinya. Mulai dari Societe Concordia yang hanya kita kenal dari tulisan-tulisan lama, karena sekarang telah berubah menjadi Pertokoan Sarinah. Penjara Wanita yang juga telah lenyap berubah menjadi Kompleks Ramayana, dan banyak lagi bangunan yang telah direnovasi tanpa memperhatikan kaidah pelestarian Benda Cagar Budaya .

Tetapi ada juga bangunan yang masih mempertahankan bentuk dan fungsi Aslinya diantaranya Gedung Bank Indonesia, Gedung Arsip disebelah kanan Kantor Pos Besar Malang, Hotel Pelangi, Gedung Bank Mandiri dan Gereja Jago.

Aloen-aloen Malang sejak dahulu hingga kini merupakan pusat keramaian dan kegiatan sosial bagi masyarakat Malang. Untuk itu Pandu Pusaka mengajak anda mengenang kembali keindahan aloen—aloen Malang

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jalan-jalan History Trail Kawi

Yap, kali ini tulisan pertama saya di life.nugiemynugie.com yang dulu sempat dihapus oleh pihak hostingan yang lama (ngga sempat nyelamatin tulisannya hehe :D). Dalam kesempatan ini, saya pengen berbagi pengalaman yang saya alami pagi tadi, jalan-jalan dengan kelompok pecinta sejarah Pandu Pusakadan Drs.Ismail Lutfi. juru sejarah UM, ke daerah jalan kawi Malang.

History trail ini pertama-tama dimulai dengan berkumpul di Guest Host milik Pemkot Malang, yang memiliki gedung dengan arsitektur jaman dulu, tetapi sudah mengalami beberapa perubahan atau penambahan. Dan sekarang dijadikan sebagai guest host yang menyimpan saksi hidup sejarah jalan kawi.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kawi lalu berbelok ke jalan Tenes Malang (samping parkir luar MOG ke arah semeru). Di sana diceritakan bahwa dulunya MOG (Mal Olympic Garden) adalah sebuah gedung pertemuan yang bernama Gedung Kartini. Sayang, saya tidak mendapatkan gambar gedungnya jaman dulu, tetapi saya atau anda-anda sekalian pasti ingat ketika jaman dulu di MOG itu ada sebuah gedung dengan pagar pendek-pendek putih, biasanya ada acara di sana (mungkin pada saat saya masi kecil dan masi ngga tau nama gedungnya)

Setelah itu ada hal menarik ternyata. Ada situs-situs sejarah yang tidak terawat, tetapi sangat penting sebenarnya. Ada semacam gardu listrik, yang digunakan jaman dulu dan di bangun jauh dengan pemukiman.

Di sebelahnya ada satu menara yang menghasilkan bunyi yang sangat keras. Menara ini digunakan sebagai pertahanan udara jaman dulu. Jadi ketika ada pemboman di area malang, maka ada orang-orang yang ditugaskan untuk memanjat lalu membunyikan sirene untuk tanda kepada warga malang untuk mengungsi ke bangker-bangker. Tetapi sekarang tidak berfungsi, dan pertanyaannya, lalu bagaimana ketika suatu saat Malang mendadak ada yang menyerang? Dari mana masyarakat bisa tau tandanya?  (*pasrah)

Lalu perjalanan berpindah ke Tangkuban prahu, karena jalan semeru penuh dengan orang jualan di pasar minggu, lewat lapangan parkir MOG dan stadion Gajayana. Di sana kami melihat, sangat di sayangkan memang, fasilitas olah raga yang tertua di Malang, sepeti kolam renang sudah berubah bentuknya dari sejarahnya, akibat pembangunan yang tidak memikirkan tataletak dan nilai sejarah.

Nah setelah sampai di jalan tangkuban prahu, ada topik, penyesalan terhadap pembangunan kota malang di bagian sanitasi dan pembuangan air. Banyak dari bagian-bagian sanitasi yang dulu di rancang dengan baik oleh Ir. Herman Thomas Karsten (orang Belanda / wong londho) pada waktu jaman penjajahan, untuk mencegah terjadinya banjir, sehingga ketika hujan air cepat meresap.

Nampak sebuah selokan yang dibuat jaman Belanda dulu untuk meresap air tetapi kini serasa tidak berguna.

Lanjut tentang sanitasi, kami kemudian berjalan ke jalan kawi, di sana kami mendapati sebuah gedung yang miring ke dalam, dulunya sebenarnya difungsikan untuk peresapan air. Jadi ketika air penuh menggenangi  jalan, maka air tersebut akan masuk ke tempat itu dan kemudian akan di resap, sehingga ngga ada banjir. Inilah sebenarnya jawaban atas protes mayasrakat, kenapa kok jalan kawi pas hujan banjir?

Lalu ternyata saya baru tahu, ada gedung APDN malang, sebagai cikal bakal berdirinya IPDN.. waw…

Lanjut perjalanan di lanjutkan ke jalan Ijen. Perumahan Ijen yang dulunya di sebut Idjen Boulevard, adalah sebuah kawasan elite pemukiman yang dirancang oleh Ir. Herman Thomas Karsten, dengan arsitektur eropa-jawa. Sebenarnya ada banyak fasilitas yang disediakan oleh Ir. Herman Thoma Karsten dalam merencanakan pembangunan kota malang termasuk jalan ijen. Misalnya, ternyata itu, sebenarnya di setiap depan pagar rumah disediakan hydrant, lho untuk apa? untuk mencegah kebakaran rumah dan memudahkan para petugas kebakaran dalam mengambil air. Lalu sekarang? hilang, termasuk yang di depan rumah saya wkwkwk.

Saluran ledeng air untuk warga. (*sudah ditimbun aspal sekarang)

Lalu pembuangan air. Kini jalan ijen kalo hujan ya banjir…

padahal kita sebagai warga malang, seharusnya “patut berbangga” (hanya berbangga? sekarang?) dengan adanya  perumahan ijen, karena Idjen Boulevardpada sekitaran tahun 1970an merupakan Boulevard paling indah se Asia Tenggara. Bahkan ada pengakuan bahwa Idjen Boulevard itu jauh lebih indah dari kota Berlin pada jaman dulu (*bayangkan…)

Idjen Boulevard jaman dulu (sumber http://malang.endonesa.net)

Idjen Boulevard foto udara (sumber http://i232.photobucket.com/albums/ee186/zhongliang_19/indo_skyscrapers/ijen.jpg)

di pinggir-pinggir jalan Ijen, terdapat pemaksaan pengindahan yaitu penanamkan anggrek di batang pohon palem wkwkwk, padahal saya rasa ngga kelihatan indahnya hehhe :D

Setelah itu ada sebuah rumah yang menandakan sebuah bangunan kuno sebagai icon sejarah Jalan Ijen, sebagai bukti rancangan arsitektur Belanda (sekarang sebelah Holland Bakery).

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Museum Brawijaya. Apa isi dari museum Brawijaya? silahkan dilihat sendiri hehe, karena terlalu panjang jika di jelaskan di sini :D

Lalu pelajaran yang saya dapat dari jalan-jalan kali ini adalah, bahwa pembangunan di malang sekarang ini, bukan suatu kemajuan. Bahkan sebuah kemunduran besar, seperti sanitasi yang tidak diperhitungkan, pembanguanan yang menghilangkan nilai sejarah, dan pembangunan yang lebih mementingkan urusan politik. Semoga tulisan ini menginspirasi anda untuk merubah kota Malang menjadi lebih baik.

NB : jika ada masukan / revisi sangat dipersilahkan  :D

sumber : http://life.nugiemynugie.com/jalan-jalan-history-trail-kawi/

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

KAJOETANGAN Straat

Sedari dulu hingga sekarang Kajoetangan straat atau yang kini lebih dikenal dengan Jl.Jendral Basuki Rahmat merupakan pusat perniagaan yang sangat ramai di Kota Malang.  Kajoetangan straat  membentang dari utara ke selatan. Ujung utaranya bersambungan dengan Tjelaket straat, dimulai dari pertigaan yang merupakan landmark Kota Malang hingga kini dengan Toko Semarang atau yang kini telah menjadi Toko Avia dipojoknya. Sedangkan Ujung selatannya berakhir di Alun—Alun Kota. Begitu banyak peninggalan dan kisah sejarah masa kolonial tersimpan sepanjang Kajoetangan straat. Diantaranya adalah Tram uap yang pernah menjelajah sepanjang Kajoetangan guna menyediakan Transportasi umum yang layak di masa itu. Kajoetangan juga merupakan saksi bisu kisah—kisah pertempuran dan perjuangan hebat yang pernah terjadi disana. Melintas Kajoetangan menuju ke selatan kita akan berjumpa dengan pusat—pusat interaksi sosial masyarakat pada waktu itu. Kita akan berjumpa dengan Bioskop, Toko Roti Delicious, Balai pertemuam masyarakat, dan yang tak boleh terlewatkan adalah Gereja Kajoetangan serta Toko OEN. Pandu Pusaka mengajak anda sekalian untuk kembali menelusuri Kajoetangan straat, sehingga kita semua dapat  mengenang arti penting Kajoetangan straat dalam tata Kota Malang dari masa Kolonial hingga sekarang.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Van TJELAKET Naar KAJOETANGAN

Siapa yang tidak kenal Tjelaket. Sebuah nama yang telah ada berabad—abad silam guna menyebut sebuah daerah yang kini berada  pada sebagian dari Jalan J.A. Suprapto. Daerah ini sangat vital peranannya bagi Kota Malang dari masa ke masa. Dari masa kolonial … Baca lebih lanjut

Galeri | Tinggalkan komentar

J.P. COEN PLEIN TRAIL

J.P Coen Plein adalah nama Kolonial untuk menyebut taman yang kita kenal sekarang dengan nama Alun—alun Bunder. Nama J.P. Coen digunakan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk menghormati Gubernur Jendral Hindia Belanda,                              Jan Pieterszoon Coen.  Daerah ini memiliki arti penting yang berkesinambungan dari masa kolonial hingga sekarang.  Di area tersebut kita akan dapat menyaksikan Balaikota yang dahulu dikenal dengan Gemeente Huis, Hotel Splendid, dan Stasiun Kota Baru yang merupakan salah satu Jalur utama transportasi dari dan ke Malang disaat itu hingga sekarang. Area tersebut juga menyimpan beberapa bangunan penting dari masa kolonial yang berkaitan dengan pendidikan dan perniagaan. Trail atau jelajah area J.P. Coen Plein diadakan oleh Komunitas Pandu Pusaka  mengajak kita semua untuk memandang kembali perkembangan area tersebut dari masa ke masa sejak jaman kolonial Hindia Belanda hingga sekarang.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar